Data BARU Tentang PDI-P

KEGADUHAN TIADA AKHIR (skenario Dajjal kasat Mata) Meski sekarang sedang bulan Ramadhan bahkan sudah menjelang berakhir, kegaduhan di negeri ini nampaknya tidak ada tanda tanda mau mereda. Setelah red notice, blue notice ditolak Interpol ,police to police gagal paham & ancaman pencabutan paspor HRS tiada akhirnya, tudingan kepada Pak Amin Rais terkait kasus korupsi Alkes, Kasus pencemaran nama baik Polri oleh Novel Baswedan, Pansus KPK, muncul lagi sekarang: 1. Statement politikus PDIP (Musda Mulia) yang mengatakan bahwa LGBT itu halal. Yang bikin kesel kenapa Musda Mulia berpakaian seperti orang muslim (dijilbab)??, sungguh memalukan umat muslim. 2. Adanya penangkapan pimpinan beberapa ormas islam di Medan. 3. Pembubaran acara bedah buku sekaligus buka bersama di Cirebon. 4. Pembahasan RUU PEMILU disinyalir akan mengarah ke keputusan capres 2019 adalah CALON TUNGGAL. Analisa saya, peristiwa2 tsb sangat kental dengan urusan pilpres 2019. Berkaca dari kekalahan Ahok/PDIP di pilpres DKI, maka Penguasa sekarang yg didukung oleh 2 partai besar diantaranya PDIP & NASDEM, sadar bahwa muslim di Indonesia sekarang benar2 telah berubah menjadi lebih cerdas dalam hal mengimplementasikan ajaran agamanya, terutama dalam hal memilih pemimpin. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh adanya Aksi Bela Islam berjilid2 disamping karena izin Allah SWT. Selain itu issue Jokowi terkait dg PKI tidak juga mereda, meskipun Jokowi sudah tegas2 membantahnya. Juga keberadaan media televisi Metro TV milik NASDEM bagi sebagian besar umat muslim adalah sbg Metro Tivu sdh tidak dipercaya lagi berita2 ataupun acara2 talkshownya. Akibat hal tsb, maka capres 2019 dari PDIP & NASDEM, yaitu Jokowi kemungkinan besar akan anjlok perolehan suaranya di pilpres 2019. Untuk menanggulangi hal tsb nampaknya upaya/strategi politik yg ditempuh oleh PDIP & sekutunya mulai dari kemarin2 sampai menjelang pilpres 2019 dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu pendekatan sosial kemasyarakatan & pendekatan konstitusi. Pendekatan sosial kemasyarakatan yg sdh dilakukan antara lain: 1. Menurunkan rasa simpati terhadap penggerak Aksi Bela Islam melalui kriminalisasi Ust. Alkhotot, HRS, Amin Rais & entah siapa lagi yang akan dikriminalisasi. 2. Menurunkan rasa simpati umat muslim terhadap ormas2 Islam melalui rencana pembubaran HTI, FPI, mengkaitkan soal khilafahnya ISIS dg HTI & penangkapan pimpinan beberapa ormas Islam di Medan. Diharapkan hal ini akan menurunkan kepercayaan umat muslim jika diseru/diajak untuk melakukan Aksi Bela Islam pada jilid berikutnya. 3. Membiarkan beberapa pimpinan atau tokoh islam yang bersebrangan dg FPI memberikan statement2 menghujat/menghina/ menantang terhadap ormas FPI & pendukung FPI, baik di dunia maya maupun di media mainstream agar terjadi bentrok diantara ormas Islam sendiri sehingga akan menurunkan simpati umat muslim terhadap ormas Islam, baik yang pro FPI maupun yang contra dg FPI. 4. Mengesankan bahwa umat muslim taat itu radikal, anti pancasila & antikebhinekaan dg cara membubarkan acara bedah buku & buka puasa di Cirebon. 5. Menarik simpati kaum LGBT dg mengatakan bahwa LGBT itu halal. Makanya waktu kasus pesta LGBT di Jakarta Utara beberapa waktu lalu pelakunya tidak diproses secara hukum, malah dilepaskan. 6. Mengabaikan permintaan pentolan Aksi Bela Islam 212 melalui KOMNAS HAM agar kasus chats mesum HRS & FH serta tuduhan2 lainnya terhadap HRS dihentikan. Penolakan tsb dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa HRS & FPI dianggap bersalah telah membuat kegaduhan di negeri ini & tidak dimaafkan oleh Penguasa. Ujung2nya kaum muslim menjadi tidak simpati lagi terhadap HRS & FPI. Adapun pendekatan melalui konstitusi dengan cara menggoreng RUU PEMILU agar dihasilkan capres CALON TUNGGAL dimana Pak Jokowi melenggang sendiri tanpa lawan. ..........
Postingan ini Terkunci untuk melanjutkan dan mengetahu data ini,silakan Sukai kami untuk membuka kunci. Terima kasih.
>

Cari Blog Ini

Laporkan Konten/Akun

Nama

Email *

Pesan *